SEMANGAT BROW
BEN CEPET MARI SEKRIPSI ATAU TESISNYA
BAB I
A.
Latar Belakang Masalah
Pesantren merupakan
salah satu institusi pendidikan dan institusi sosial keagamaan, dimana seluruh
sentral aktivitas berada didalamnya. Disamping itu juga Pesantren adalah
satu-satunya lembaga yang mampu mengembangkan dua potensinya, yakni potensi
pendidikan dan potensi kemasyarakatan. Maka diharapkan dari pesantren bisa dan
mampu melahirkan generasi yang tidak saja mampu menguasai ilmu pengetahuan
keagamaan, luas wawasan pengetahuan dan cakrawala pemikirannya, tetapi akan
mampu memenuhi persoalan dan tuntutan zaman dalam rangka pemecahan persoalan
kemasyarakatan.
Perlu disadari bahwa
peran aktif pesantren di tengah-tengah masyarakat ternyata mempunyai akses yang
signifikan dan lebih mampu untuk mendekatkan diri dengan problema sosial yang
kompleks, hal ini dikarenakan pesantren mampu bersikap santun dan terlihat ikut
merasakan lilitan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Sikap ini secara
natural dan tanpa rekayasa, karena ia tidak mempunyai niat untuk dijadikan
pahlawan dalam partisipasinya melaksanakan fungsi kemasyarakatan. Semua
aktifitas yang dilakukan praktis tanpa pamrih. Ia sama sekali tidak menunjukkan
sikap arogan, apalagi karakter biokratis dan elitis. Lebih tepatnya pesantren
mempu untuk memposisikan dirinya sebagai penyeimbang terhadap kebijakan pablik
yang dilakukan oleh negara dan lembaga-lembaga lain di luar dirinya. Dengan
demikian pesantren berfungsi sebagai kontrol sosial dan ikut serta dalam
mengupayakan terciptanya civil society yang kritis dan independen tanpa
terkooptasi oleh institusi yang bernama negara dan bentuk konspirasional
lainnya.
Setelah melihat potret
pesantren di atas, lalu pertanyaannya adalah bagaimana memformulasikan yang
tepat dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah kecenderungan
masyarakat yang meterialis dan pragmatis. Justru yang paling sulit untuk di
kedepankan terletak pada kerangka simbolis mutualisme antara pesantren dan
lingkungan masyarakat. Untuk dalam pencarian paradigma baru yang
dikontekstualkan dengan aspirasi
masyarakat dan perubahan zaman selalu menjadi pekerjaan rumah pesantren dewasa
ini, sebab mengisolasi diri dan menutup mata terhadap realitas sosial yang
tengah terjadi, maka fungsi pesantren sebagai katalisator atas kepentingan
masyarakat luas akan hilang, itu artinya selain sebagai institusi pendidikan,
pesantren juga harus menciptakan suasana dan lingkungan lembaga pendidikan yang
kondusif bagai kelancaran pelaksanaan pendidikan, sehingga pendidikan dan
pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien. Sehingga masyarakat akan
merasa ikut memiliki eksistensi pesantren bila ia mampu membuat secara konkrit
akan terjadi perubahan-perubahan positif dalam berbagai elemen masyarakat.
Seiring dengan
perkembangan zaman yang semakin pesatnya
dalam bidang ilmu dan teknologi maka pesantren dalam mempertahankan nilai-nilai islam yang berpegang pada kaidah "
Al-muhafadzah `ala al-qodim al-shalih wal al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah" dalam arti ( mempertahankan tradisi klasik yang baik dan terus menerus
menggali serta melestarikan tradisi baru
yang lebih baik). Dengan berpedoman pada kaidah tersebut,
Yayasan Al-Munawwar Pondok Pesantren
Daruttaqwa Suci Manyar Gresik didalam menciptakan generasi santri
berilmu,beramal,dan bertaqwa, yang berkualitas dalam mengimplementasikan
ilmunya di masyarakat. Selalu terus menerus mengembangkan lembaga pendidikannya
yakni mulai dari jenjang pendidikan
formal TK/RA, MI, MTs, MA, SMK, dan Perguruan Tinggi STAIDA Daruttaqwa begitu juga Lembaga non formal diantaranya
,TPQ, Pengajian kitab kuning untuk santri mukim, dan santri kalong anggota Tharikot
"Qodiriyah Wan Naqsabandiyah" Se-wilayah Gresik, Lamongan,
sebagian Tuban, sebagian juga Madura .
Dalam menghadapi hal
tersebut, perlu dilakukan penataan terhadap sistem pendidikan secara menyeluruh
(kaffah), terutama berkaitan dengan kualitas pendidikan, yang juga akan
berpengaruh pada kualitas lulusannya, serta relevansinya dengan kebutuhan
masyarakat dan dunia kerja. Pendidikan adalah kehidupan, untuk itu kegiatan
belajar harus dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup (Life
skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan dan
kebutuhan peserta didik. Unesco (1984) mengemukakan dua prinsip pendidikan yang
sangat relevan dengan Pancasila :
Pertama, pendidikan harus diletakkan pada empat pilar, yaitu belajar
mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do),
belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live togheter), belajar
menjadi diri sendiri (learning to be).
Kedua, belajar seumur hidup (life long learning).[1] Harus diletakkan pada empat pilar, yaitu
belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to
do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live togheter),
belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Pondok pesantren sebagai
salah satu lembaga pendidikan, diakui mempunyai adil yang cukup besar di dalam
membesarkan dan mengembangkan dunia pendidikan. Pondok pesantren juga dipercaya
dapat menjadi alternatif bagi pemecahan berbagai masalah pendidikan yang
terjadi pada saat ini. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang
tertua di Indonesia.
Menurut Para ahli,
Pondok pesantren baru dapat disebut pondok pesantren bila memenuhi 5 syarat,
yaitu: (1) ada Kyai, (2) ada Santri, (3) ada Masjid, (4) ada Pengajian Kitab
Kuning, dan (5) ada Pondok.[2]
Pondok pesantren sebagai
komunitas dan sebagai lembaga pendidikan yang besar jumlahnya dan luas
penyebarannya di berbagai pelosok tanah air telah banyak memberikan saham dalam
pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang religius. Oleh karna itu lembaga tersebut
telah banyak melahirkan pemimpin bangsa di masa lalu, masa kini, dan juga di
masa yang akan datang. banyak yang mengambil partisipasi aktif dalam
pembangunan bangsa. Namun di sisi lain ada pula anggapan bahwa lulusan pondok
pesantren susah diajak maju. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan pondok
pesantren yang kebanyakan masih sangat tradisional.
Menurut Mastuhu,
Tujuan pendidikan pondok pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan
kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang berilmu, beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan, berakhlaqul karimah, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmah pada
masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat sekaligus menjadi
rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad
SAW, (Mengikuti sunnah Rosul), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh
dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat
Islam di tengah-tengah masyarakat (izzul Islam wal muslimin) serta
mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.[3]
Dari rumusan tujuan
tersebut, tampak jelas bahwa pendidikan di pondok pesantren sangat menekankan
pentingnya menghidupkan Islam di tengah-tengah kehidupan. Itu artinya Qualified
/ Kualitas santri harus terus ditingkatkan sebagai modal menegakkan Islam di
tengah-tengah kehidupan yang semakin pesat dan selalu mengalami perubahan.
Memasuki abad ke-21,
berbagai perkembangan dan perubahan telah dan sedang terjadi dengan sangat
cepat dalam semua aspek kehidupan manusia. Perkembangan Sains - Teknologi,
penyebaran arus informasi dan perjumpaan budaya dapat menggiring kecenderungan
masyarakat untuk berpikir rasional, bersikap inklusif dan berperilaku adaptif.
Mereka semacam dihadapkan pada berbagai pilihan baru yang menarik dan cukup
menggoda untuk mengikutinya. Masyarakat sekarang begitu intens terhadap
perubahan - perubahan baik menyangkut pola pikir, pola hidup, kebutuhan
sehari-hari hingga proyeksi kebutuhan masa depan. Kondisi demikian tentu sangat
berpengaruh signifikan terhadap standar kehidupan masyarakat. Mereka mau tidak
mau senantiasa berusaha berpikir progresif sebagai respon terhadap perkembangan
dan tuntutan zaman. Dan hal itu juga terjadi dalam pondok pesantren yang
mengalami perubahan dalam mengembangkan sistem pendidikannya, mau tidak mau
harus mengembngkan sistem pendidikanya untuk mencetak kader bangsa yang Kualitas.
Ali Ashrof
menyatakan bahwa saat ini sudah terjadi pergeseran orientasi dalam kehidupan,
manusia begitu tergila-gila pada prestasi materi, sukses duniawi, efesiensi dan
kesenangan semu yang mengizinkan pembaharuan teknologi yang tidak terkontrol
dan mengakibatkan penyakit Ekologi dan Social mereka. Sikap ini sebagai
konsekuensi logis ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
tidak diimbangi dengan kedalaman iman dan taqwa.[4]
Di tengah berjalanya
arus globalisasi, para pakar ramai menyatakan bahwa dunia akan semakin komplek
dan saling ketergantungan satu sama lain. Dikatakan pula bahwa perubahan yang
akan terjadi dalam bentuk tidak bersambung, dan tidak bisa diramalkan. Masa
depan merupakan suatu yang tidak berkesinambungan. Kita memerlukan pemikiran
ulang dan rekayasa ulang terhadap masa depan yang akan dilewati. Sehingga kita
berani tampil dengan pemikiran yang terbuka dan meninggalkan cara-cara lama
yang tidak produktif, namun semua pernyataan tersebut menggambarkan bahwa dunia
akan kurang siap dalam menghadapi hal tersebut akan tetapi hal ini menjadi
suatu dorongan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi globalisasi.
Fenomena globalisasi
banyak melahirkan sifat individualisme dan pola hidup materialistik yang kian
mengental. Disinilah keunikan pondok pesantren yang masih konsisten dengan
menyuguhkan suatu sistem pendidikan yang mampu menjembati kebutuhan fisik (jasmani)
dan kebutuhan mental spiritual (rohani) manusia.
Eksistensi pondok
pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya memiliki komitmen untuk
tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia
(SDM) yang handal dan bemutu. Kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan)
dan tangan (keterampilan), merupakan modal utama untuk membentuk pribadi
santri yang mampu menyeimbangi perkembangan zaman, dan juga santri yang
Kualitas. Berbagai kegiatan keterampilan dalam bentuk pelatihan atau work-shop
(daurah) yang lebih memperdalam ilmu pengethuan dan keterampilan kerja
adalah upaya untuk menambah wawasan santri di bidang ilmu sosial, budaya dan
ilmu praktis, merupakan salah satu terobosan konkret untuk mempersiapkan
individu santri di lingkungan masyarakat secara umum.
Sebagai lembaga
pendidikan Islam yang tertua di Indonesia, pesantren menjadi tumpuan harapan. Menurut Nurcholis
Madjid, “semboyan mewujudkan masyarakat madani akan terwujud bila
institusi pesantren tanggap atas perkembangan dunia modern”.[5]
Penilaian Nurcholis
Madjid itu merupakan penilaian bersyarat, artinya pesantren harus tanggap
terhadap perkembangan dunia modern, Persyaratan ini sebenarnya berfungsi juga
sebagai tantangan yang perlu direspon oleh pesantren. Pesantren tidak bisa
mengelak dari tanggung jawab menghadapi tantangan tersebut, karena jika
mengelak, resiko yang ditanggung pesantren tidaklah kecil. Santri maupun Alumni
pesantren bisa gagap menghadapi perubahan global yang berkembang dengan cepat. Mastuhu
juga menilai bahwa akibat dari pengaruh globalisasi,
pesantren tidak bisa menutup diri dari perubahan sosial yang begitu cepat.[6] Realita
semacam ini memang terasa sebagai suatu dilema yang tidak mudah dipecahkan oleh
pesantren. Pesantren tidak bisa bersikap isolatif dalam mengadapi berbagai
tantangan tersebut. Respon yang positif adalah dengan memberikan banyak
alternatif yang berorientasi pada pemberdayaan manusia sebagai santri yang
handal untuk menghadapi era globalisasi, yang membawa berbagai persoalan yang
semakin kompleks pada sekarang ini.
Dalam menghadapi
tantangan yang semakin kompleks di lingkungan masyarakat, maka pondok pesantren
harus berani tampil dan mengembangkan dirinya sebagai pusat keunggulan dalam
mencetak kader santri yang Kualitas. Pondok pesantren tidak hanya mendidik
santri agar memiliki ketangguhan jiwa (taqwimu al-nafs), jalan hidup
yang lurus, budi pekerti yang mulia, akan tetapi santri juga harus dibekali
dengan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan lainnya, guna dapat mewujudkan
dan mengembangkan segenap kualitas yang dimilikinya.
Dan dari sinilah pondok
pesantren harus mengembangkan sistem pendidikannya yang menggabungkan antara
unsur-unsur pendidikan Islam tradisional yang identik dengan Kitab - kitab
klasik dengan pendidikan Islam modern yang menggunakan sistem dan metode yang
baru. Dan juga santri diajarkan berbahasa asing (Arab dan Inggris) yang
memungkinkan untuk mengakses bacaan Buku - buku umum yang cukup luas termasuk
ke perpustakaan asing. Perpaduan dari kedua sistem pendidikan ini melahirkan
sistem pendidikan yang komprehensif, tidak saja hanya menekankan penguasaan
terhadap khazanah keilmuan Islam klasik saja, akan tetapi juga mempunyai
integritas keilmuan yang modern.[7]
Perkembangan sistem
pendidikan pondok pesantren juga dapat dilihat dari orientasinya yang lebih
mementingkan penguasaan ilmu alat, seperti Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.
Penggunaan bahasa Asing belum lagi menjadi penekanan utama pada pondok
pesantren salafi. Selain itu metode yang digunakan juga lebih bervariasi, tidak
hanya terpaku pada sistem ceramah saja. Namun media belajar yang digunakan juga
menyesuaikan dengan teknologi yang sedang berkembang, seperti penggunaan
Laboratorium bahasa, Laboratorium komputer dan lain-lain. Ditambah pula dengan
pemberian berbagai macam ketrampilan yang berguna setelah terjun di masyarakat
nantinnya.[8]
Dengan demikian, pondok
pesantren yang semula hanya memfokuskan pada pendidikan salaf saja, namun
sekarang dengan pengembangan sistem pendidikan yang memasukkan materi-materi
pelajaran umum, santri dapat bersaing dalam era-modern yang mana manusia tidak cukup
hanya berbekal dengan moral yang baik saja, akan tetapi perlu di lengkapi
dengan keahlian atau ketrampilan yang relevan dengan kebutuan kerja.[9]
Begitu pula terdapat kecenderungan yang kuat bahwa santri membutuhkan ijazah
dan pengusaan bidang keahlian, atau ketrampilan yang jelas, yang dapat
mengantarkannya untuk menguasai lapangan kehidupan tertentu. Hal ini semua
akibat dari adanya pengembangan sistem pendidikan, terutama sekali pondok
pesantren yang selama ini sangat akrab dengan pendekatan tradisional.
Sebagai lembaga
pendidikan, Pondok pesantren dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai
lembaga yang mencetak Kyai atau Pemimpin keagamaan saja tetapi juga mencetak
pemimpin bangsa yang salih dan tenaga handal dalam bidang tertentu yang dijiwai
oleh semangat moral Agama sebagaimana yang dicita - citakan oleh pendidikan
Nasional dalam PPRI No 55 tahun 2007 “Tentang Pendidikan Agama Dan Pendidikan
Keagamaan” Pasal 26 ayat (1) Pesantren menyelenggarakan pendidikan dengan
tujuan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta
tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan
peserta didik untuk menjadi ahli ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin) dan atau
menjadi muslim yang memiliki keterampilan atau keahlian untuk membangun
kehidupan yang Islami di masyarakat. (2) Pesantren menyelenggarakan pendidikan
Diniyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya pada jenjang
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, dan atau pendidikan tinggi.
(3) Peserta didik dan atau pendidik di pesantren yang diakui keahliannya di
bidang ilmu agama tetapi tidak memiliki ijazah pendidikan formal dapat menjadi
pendidik mata pelajaran atau kuliah pendidikan agama di semua jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan yang memerlukan, setelah menempuh uji kompetensi sesuai
ketentuan Peraturan Perundang-undangan.[10]
Pendidikan yang kata itu dilekatkan pada kata Islam didefinisikan secara berbeda-beda oleh orang yang berbeda-beda sesuai dengan pendapatnya masing masing. Tetapi semua pendapat itu bertemu dalam satu pandangan, bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Selain mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi untuk memelihara identitas masyarakat, pendidikan juga bertugas mengembangkan potensi manusia untuk dirinya sendiri dan masyarakatnya.
Pendidikan yang kata itu dilekatkan pada kata Islam didefinisikan secara berbeda-beda oleh orang yang berbeda-beda sesuai dengan pendapatnya masing masing. Tetapi semua pendapat itu bertemu dalam satu pandangan, bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Selain mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi untuk memelihara identitas masyarakat, pendidikan juga bertugas mengembangkan potensi manusia untuk dirinya sendiri dan masyarakatnya.
Dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin,
Al-Imam al-Ghazali memulai pandangannya dengan nada provokatif tentang
keutamaan bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan dengan mengutip al-Qur’an
surat Al-Mujadilah ayat 11.
يَرْفَعِ اللهُ
الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير
Artinya: “Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadilah:11)
Provokasi ini kemudian
dilanjutkannya dengan hadis Nabi yang bernada majaz metaforik yang dikemukakan
oleh Ibnu Abbas tentang keutamaan ilmuwan atas orang awam,
pernyataan tersebut. yang Artinya: “Para orang-orang yang berilmu memiliki
derajat diatas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratus derajat, jarak di antara
dua derajat tersebut adalah perjalanan lima ratus tahun”.Konsep pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung bersifat empirisme, hal ini disebabkan karena dia sangat menekankan pada pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya, pendidikan seorang anak sangat tergantung kepada orang tua yang mendidiknya. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa dalam peranannya, pendidikan sangat menentukan kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya.
Dengan
melihat dan memahami beberapa karyanya yang berkaitan dengan pendidikan, dapat
dikatakan bahwa Al-Ghazali adalah penganut asas kesetaraan dalam dunia
pendidikan, dia tidak membedakan kelamin penuntut ilmu, juga tidak pula dari
golongan mana dia berada, selama dia Islam maka hukumnya wajib, tidak
terkecuali bagi siapapun. Dapat dikatakan pula, bahwa dia adalah penganut
konsep pendidikan tabula rasa (kertas putih), dimana pendidikanlah yang bisa
mewarnai seorang anak yang bagai kertas putih tersebut dengan hal-hal yang
benar. Hal tersebut tercermin dalam salah satu kitabnya, Ihya’ ’Ulumuddin yang
mengatakan bahwa seorang anak ketika lahir masih dalam keadaan fitrah (suci).
Intinya, pendidikan menurut
al-Ghazali bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana
tujuan penciptaan manusia yang termaktub dalam QS. Al-Dzariyat: 56.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Tujuan pendidikan ini dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu: (1) Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT; (2) Tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlaq al-karimah; (3) Tujuan pendidikan islam adalah mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Perumusan ketiga tujuan pendidikan tersebut dapat menjadikan program pendidikan yang dijalankan bersinergi dengan tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah sehingga pada gilirannya mampu mengantarkan peserta didik kepada kedekatan diri dengan Allah SWT. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan dalam pandangan al-Ghazali adalah memanfaatkan pengetahuan yang ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiri yang dengannya dapat menjaga keseimbangan alam semesta ini dengan melestarikan kehidupan manusia dan alam sekitarnya, juga sekaligus sebagai sebuah aplikasi dari tugas penciptaan manusia di muka bumi. Pemanfaatan pengetahuan itu semata-mata adalah bertujuan untuk Ta’abbud kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.
Pendidikan pondok
pesantren yang seperti inilah yang mampu mewakili pandangan tokoh Islam
Asy-Syaibani tentang tujuan pendidikan Islam yaitu:
1.
Tujuan
yang berkaitan dengan individu mencakup perubahan yang berupa pengetahuan,
tingkah laku, jasmani dan rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki
untuk hidup di dunia dan akhirat.
2.
Tujuan
yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah
laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya
pengalaman masyarakat.
3.
Tujuan
Qualitas yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai
seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.[11]
Karena itulah dengan
dikembangkannya sistem pendidikan pondok pesantren, santri dituntut untuk komitmen
terhadap alam menjalankan tugasnya sebagai juru dakwah ajaran Islam. Seseorang
dikatakan Handal / Qualitas, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang
tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja,
sikap continue, yakni selalu memperbaiki dan memperbaharui model-model atau
cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya.[12]
Untuk mencapai tujuan di
atas, para santri harus dibekali dengan sejumlah nilai keislaman yang dipadukan
dengan keterampilan. Pembekalan ilmu dan keterampilan dapat ditempuh dengan
mempelajari tradisi ilmu pengetahuan agama dan penggalian dari teknologi
keterampilan umum yang memadukan antara ilmu keagamaan dan umum. Dari sinilah
peran pesantren perlu ditingkatkan untuk menciptakan santri yang Qualitas dan
bermutu, salah satu langkah yang bijak adalah mempersiapkan pesantren tidak "Ketinggalan
Zaman”, agar tidak kalah dalam persaingan. Pada tataran ini yang masih
banyak pembenahan dan perbaikan yang harus dilakukan oleh pondok pesantren.
Paling tidak tiga hal yang mesti dilakukan oleh pondok pesantren yang sesuai
dengan jati dirinya.
Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan pengkaderan ulama, ulama yang
intelektual, berwawasan luas, dan yang profesional. Fungsi ini tetap harus
melekat pada pesantren, karena pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan
yang melahirkan ulama. Namun demikian, tuntutan modernisasi dan globalisasi
mengharuskan ulama memiliki kemampuan lebih, kapasitas intelektual yang
memadai, wawasan, akses pengetahuan dan informasi yang cukup serta responsif
terhadap perkembangan dan perubahan zaman. Kedua, pesantren sebagai lembaga
pengembangan ilmu pengetahuan khusus agama Islam. Pada tatanan ini, pesantren
masih dianggap lemah dalam penguasaan ilmu dan metodologi. Pesantren hanya
mengajarkan ilmu agama dalam arti Transfer of knowledge. Karena
pesantren harus jelas memiliki potensi sebagai "lahan"
pengembangan ilmu agama dalam menciptakan output yang kualitas. Ketiga,
dunia pesantren harus mampu menempatkan dirinya sebagai transformasi,
motivator, dan inovator.[13]
Walaupun pada dasarnya
pesantren merupakan lembaga pendidikan yang lebih berorientasi pada ”al-tafaqquh fi
al-din” yakni untuk mengkaji dan mengembangkan
ilmu-ilmu keagamaan. Akan tetapi, seiring dengan perubahan zaman maka pesantren
juga dituntut untuk menyelenggarakan pendidikan yang mampu bersaing dengan
lembaga pendidikan yang lain dalam menciptakan santri yang ESTU kepada Gurunya
dan Berkualitas sehingga dapat menghadapi tantangan dunia global.
Dalam Pengajian K.H.Munawwar
Adnan Kholil juga berkata “bahwa pendidikan yang sebenarnya adalah
Pendidikan yang berada di Pondok Pesantren karna di pesantren itu tempatnya
sangat mendukung dan tempat untuk belajar dan mengajar sekalian untuk
mempraktekan Ilmunya”, maka pesantren juga dituntut untuk menyelenggarakan
pendidikan yang mampu bersaing dengan lembaga pendidikan yang lain dalam
menciptakan santri yang pendidikan agama Islam sehingga dapat menghadapi
tantangan dunia global. Karena pada saat ini tuntutan masyarakat terhadap
pesantren semakin berkembang. Hal ini juga merupakan kesempatan sekaligus
tantangan bagi lembaga pendidikan pesantren dalam mengembangkan sistem
pendidikannya untuk mewujudkan eksistensinya. Dalam hal ini pesantren diharapkan mampu
mencetak figur-figur “Ulama’ Akirat’” [14]
Ditulis Oleh Hj.Nur
Qomariyah Setyawati Wulandari mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa
Gresik dengan judul Upaya KH. Moh. Munawwar Kholil dalam mengembangkan
Pendidikan Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik Penelitian
itu membahas upaya KH. Munawar dalam mengembangkan Pondok Pesantren Daruttaqwa
Suci Manyar Gresik. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan adalah tentang
bagaimana kepemimpinan KH. Munawar yaitu terkait dengan tipe-tipe
kepemimpinannya. Dalam penelitian ini penulis berupaya untuk
mengungkapkan system dikembangkan oleh KH.Munawar Adnan Kholil dalam
mengembangkan Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci Gresik tahun 1987 -2012. [15]
Sebagai salah satu
contoh sistem yang dipakai di Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci, Gresik dalam Perspektif
Pemikiran Pendidikan Islam yaitu untuk mencetak santri yang “Berilmu, Beramal dan Bertaqwa” yaitu
memadukan antara ilmu keagamaan Islam dan ilmu umum, serta pembelajarannya itu
tidak hanya di lakukan di pondok pesantren saja, namun orang tua pun dilibatkan
dalam mendidik anak tersebut, sehingga anak tersebut terkontrol dalam pembelajarannya.
Dan juga penataan tempat yang unik, yang membentuk Jamiyah-jamiyah atau
Kompleks (Asramah) sehingga membuat anak lebih kerasan berada di
lingkungan Pondok Pesantren, adapun santri yang menempati setiap Jamiyah atau
Kompleks tersebut sekitar 35 Anak dan 10 Ustad/Assated, dan ada 15 Jamiyah/Asrama,
juga ustad disini fungsinya sangat signifikan, selain menjadi pembimbing di
dalam kamar ia juga menjadi orang tua /
kepala kamar. Jadi Ustad / Ustadz disini memiliki fungsi yang Multitalenta
serbaguna dalam membina anak didiknya.
Oleh karena itu berdasarkan landasan penelitian inilah, peneliti
ingin mencoba mengetahui lebih jauh tentang peran Pondok Pesantren Daruttaqwa
Suci Manyar Gresik dalam pengembangan sistem Pesantren dalam perspektif
pemikiran pendidikan Islam, Mengingat bahwa tantangan yang dihadapi oleh
lembaga pendidikan pesantren semakin hari semakin bertambah maju.
Disamping itu orientasi masyarakat dahulu dengan masyarakat
sekarang mulai mengalami pergeseran sebagai imbas dari arus globalisasi. Untuk
itu pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu
mengembangkan sistem pendidikannya dalam perspektif pemikiran pendidikan Islam
dan pengembangan system pendidikan Pesantren.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
perlu kiranya diberikan rumusan penelitian. Sebagai langkah preventif agar tidak
terjadi penyimpangan dalam pembahasan penelitian. Adapun rumusan penelitian
tersebut adalah:
1.
Bagaimana
Pengembangan Sistem Pendidikan di Pondok Pesantren Daruttaqwa ?
2.
Apa
faktor Penghambat dan Pendukung dalam Pengembangan Sistem Pendidikan di Pondok
pesantren Daruttaqwa ?
3.
Bagaimana
perspektif pemikiran pendidikan Islam terhadap pengembangan system pendidikan
pesantren Daruttaqwa ?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan
penelitian diatas, penelitian ini mempunyai tujuan :
1.
Mengetahui
pengembangan sistem pendidikan di Pondok Pesantren Daruttaqwa.
2.
Mengetahui
faktor Penghambat dan Pendukung dalam Pengembangan Sistem Pendidikan di Pondok
pesantren Daruttaqwa.
3.
Pemikiran
pendidikan Islam terhadap pengembangan system Pesantren di Pondok Pesantren Daruttaqwa.
D.
Batasan Istilah
Agar dalam
pembahasan nanti tidak menimbulkan perbedaan persepsi, maka perlu diberi
penegasan terhadap istilah yang digunakan dalam judul Tesis tersebut, antara
lain:
1.
Pengembangan
sistem (Systems development) dapat berarti menyusun dan mengembangkan sistem
yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada dengan
menambah suatu yakni Bahasa Arab dan juga Bahasa Inggris, Sistem yang lama
perlu dikembangkan lagi dengan sistem yang lebih tepat untuk mencapai tujuan.
2.
Sistem berarti cara yang teratur untuk
melakukan sesuatu sistem pendidikan pesantren adalah totalitas interaksi dari
seperangkat unsur-unsur pendidikan pesantren (yaitu: Kyai, Santri, Masjid,
Kitab, Pondok Pesantren) yang bekerja secara terpadu, saling melengkapi antara
satu dengan yang lain, guna mewujudkan tujuan dan cita-cita yang diharapkan
oleh pesantren itu sendiri.[16]
3.
Pondok
pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam tradisional yang mempelajari,
memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan memberi penekanan
pada pentingnya moralitas keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari”.[17]
4.
Pemikiran
Pendidikan Agama Islam berarti seseorang yang memiliki tiga hal pokok dalam
dirinya yaitu: skil, orang yang benar-benar ahli dalam bidangnya, knowledge
, mempunyai pengetahuan yang luas, cerdas, mempunyai ide-ide baru, attitude
yaitu seorang yang memiliki ahklaq baik, etika yang bagus.[18]
5.
Santri
adalah julukan bagi orang yang mendalami ajaran-ajaran Islam di sebuah lembaga-lembaga
pendidikan Islam yang berasrama (pondok).[19]
E.
Asumsi
Agar dalam pembahasan ini tidak terjadi kesalahfahaman, maka
penulis hanya membatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan sistem Pesantren
dalam dalam perspektif pemikiran pendidikan Islam. (Studi kasus dipondok
pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik), yakni bagaimana pengembangan sistem
pendidikan di pondok pesantren Daruttaqwa, apa faktor penghambat dan pendukung
dalm mengembangkan sistem pendidikan pondok pesantren Daruttaqwa, dan bagaimana
upaya atau peran pondok pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik dalam perspektif
pemikiran pendidikan agama Islam, dan juga bagaimana system pendidikan dan
pengajaran di pondok pesantren Daruttaqwa dalam perspektif pemikiran Imam
Al-Ghazali, yang Dalam hal ini lebih menekankan pada Sekolah Diniyahnya dan
Pengajian Kitab Kuning.
F.
Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas,
maka penelitian ini diharapkan
mempunyai
manfaat antara lain:
1.
Manfaat
Bagi Peneliti
Sebagai media belajar dalam
mengaktualisasikan pengalaman belajar dan berlatih berfikir kritis, juga untuk
memperluas wawasan dan mempertajam analisis berpikir kritis tentang bagaimana
sistem pendidikan pondok pesantren dalam prespektif pemikiran pendidikan Islam.
Di samping itu bermanfaat pula sebagai media pembelajaran lebih lanjut dari
mata kuliah Pendidikan Islam untuk mempersiapkan diri sebagai pendidik kelak.
2.
Manfaat
Bagi Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci Gresik.
Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan
dalam proses pengambilan kebijakan lebih lanjut, dalam rangka membentuk santri
untuk berfikir tentang Islam lebih dalam dan sebagai bahan dokumentasi yang
dapat menambah dan melengkapi khasanah referensi pengembangan Sistem Pesantren
dan juga bermanfaat Bagi Santri.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan
santri bisa lebih menyadari betapa penting untuk menjadi manusia yang
mengetahui Islam sebenarnya. Sehingga dengan menjadi orang yang Insan kamil,
dan menjadi orang yang intelektual, berilmu tinggi, berwawasan luas, santri
mampu mengamalkan ilmunya dan mampu bersaing di dunia kerja dan di tengah
tengah masyarakat global.
3.
Manfaat
Bagi Mahasiswa Tarbiyah Jurusan PAI.
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan
sumbangan pemikiran kepada praktisi lembaga pendidikan Islam, dalam
mengembangkan sistem pendidikan, khususnya pada lembaga pendidikan pondok
pesantren ataupun secara umum pada instansi lembaga yang lain sehigga dapat
menjadi acuan untuk mengembangkan system pendidikannya.
[1] Ibid., hlm. 5.
[2] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam
Prespektif Islam, ROSDA, Bandung, 2001, hlm. 191.
[3] Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1999), hlm. 123.
[4] Ali Ashrof, Horizon Baru Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Firdaus,
1996), hlm. 17.
[5]
Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta:
Paramadina, 1992), hlm. 95-96.
[6]
Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana
Ilmu,
1999), hlm. 123.
[7] Nurcholis Madjid dalam Yasmadi, Modernisasi Pesantren (Kritik
Nurcholis Terhadap Pendidikan Islam Tradisional), Ciputat Press, Jakarta,2002,
hlm. 117.
[8] Ibid.,hlm.12.
[9] Jamaluddin Malik (ed), Pemberdayaan Pesantren, Pustaka Pesantren,
Yogyakarta, 2005, hlm. 10.
[11] Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 49.
[12] Ibid, hlm. 110.
[13] http://www.piliran-rakyat.com., Tentang Pesantren dan Globalisasi.
7 Mei 2009.
[14] Imam Suprayogo, Reformulasi
Visi Pendidikan Islam, (Malang: STAIN Malang Press, 1999), hlm. 170
[15] Skripsi Nur
Qomariyah Setyawati Wulandari mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa
Gresik
[16] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian
tentang Unsur.
[17] Sitatul Nur Aisyah, Pesantren Mahasiswa; Pesantren Masa Depan
dalam Menggagas Pesantren Masa Depan, (Yogyakarta: Qirtas, 2003), hlm. 250.
[18] www. Google .com (Professional).
[19] Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban, Paramadina, Jakarta,
1997, hlm. 52.



0 Comments